Liburan Gratis ke Pulau Tunda Bersama Paspor Ijo [Bagian 2]

Hari Kedua Pagi hari kedua, saya, Chandra, Megy, Arta, dan Pache bangun pagi-pagi sekali untuk me...

Hari Kedua

Pagi hari kedua, saya, Chandra, Megy, Arta, dan Pache bangun pagi-pagi sekali untuk melihat matahari terbit. Sebetulnya, kami memang mau hunting foto matahari terbit yang keren, sayangnya pagi itu mendung. Langit yang kelabu sama sekali enggak mendukung matahari pagi itu untuk memancarkan sinar keemasannya. Biarpun begitu, kami tetap bisa mendapatkan foto-foto bagus. Kalo saya, sih, fotonya jadi sedikit banget. Maklum, cuma pakai kamera ponsel. Dengan penerangan yang minim, enggak banyak yang bisa ditangkap oleh ponsel saya.

Karena mendung, mataharinya jadi malu-malu, tuh.. :p

Ini masih pukul 05.17 dan masih gelap.
Seperti yang udah saya bilang sebelumnya, pada hari kedua, kami snorkeling ke empata titik di sekitar Pulau Tunda. Namun, melihat waktu yang enggak mencukupi, akhirnya pada hari kedua kami cuma pergi ke dua titik selam, salah satunya adalah Spot Nemo. Setelah sarapan, kami pun bersiap menuju titip snorkeling Spot Nemo.

Bersiap memakai perlengkapan sebelum snorkeling!

Kenapa dinamakan Spot Nemo? Karena kamu bisa menemukan ikan badut yang terkenal melalui film Finding Nemo di sini. Mungkin kamu bertanya-tanya, masak, sih, di Pulau Tunda bisa ketemu ikan badut? Nyatanya, memang benar ada, kok. Tapi, mungkin memang enggak terlalu banyak. Kalau kamu mau menemukan ikan badut ini, kamu harus snorkeling di kedalaman 2-3 meter. Ikan badut ini juga enggak naik ke permukaan, cuma ada di dasar. Jadi, kamu harus jeli untuk menemukan mereka.

Tuh, 'kan, ada ikan badutnya~ - photo by Momotip

Sebelum saya lanjutkan, saya mau jujur dulu. Sebenarnya, saya mabuk laut, bahasa kerennya, sih, motion sickness. Jadi, saat semua peserta giveaway bersama teman-teman dari Paspor Ijo dan Momotrip sedang asyik snorkeling, saya cuma bertahan 15 menit di air. Selanjutnya, saya mual dan istirahat di kapal. Selalu begini, deh, setiap snorkeling. Waktu di Pulau Pari juga saya enggak bisa snorkeling karena mabuk laut, eh sekarang begini lagi. Sedih.. :(( Eh, kenapa malah jadi curhat? Hahhaaa..

Ini pemandangan alam bawah lautnya~ :)) - photo by Momotrip

Lanjut, deh, ya~ Kami snorkeling mulai pukul 8 pagi sampai 12 iang, loh. Lumayan lama juga, ya. Buat yang mau tanning, selesai snorkeling, langsung cokelat, deh, kulitnya! Nah, karena kami cuma snorkeling di dua tempat, akhirnya selepas snorkeling kami kembali ke homestay untuk mandi, makan siang, dan beristirahat sebelum kembali mengeksplorasi Pulau Tunda. Kali ini, kami diajak menikmati matahari terbenam di Mercusuar.

Tahu, enggak, saat dibilang mercusuar, yang ada di bayangan saya adalah bangunan tinggi dari bata atau beton dengan suar yang menyala. Ternyata, mercusuar di Pulau Tunda bentuknya mirip SUTET (Sumber Tegangan Ekstra Tinggi, itu loh yang suber listrik) atau mungkin menara kali, ya. Yah, mungkin saya kebanyakan nonton film.. hehhhee..

Kami berangkat ke Mercusuar selepas asar. Dari homestay, kami berjalan sekitar kurang lebih 30 menit, melewati jalan setapak yang di kanan-kirinya terdapat rumah penduduk dan hutan. Meski dibilang hutan, sebetulnya di sana enggak banyak pohon tinggi yang lebat; yang banyak cuma rumput liar, ilalang, pohon kelapa, dan tumbuhan-tumbuhan perdu gitu. Tapi, perjalanan menuju ke Mercusuar benar-benar asyik karena saat itu semua peserta sudah semakin akrab dan kami semua mengobrol tentang banyak hal.

Bersiap menuju Mercusuar! - photo by Paspor Ijo

Enggak kayak di Jembatan Galau, di Mercusuar ini ada warung yang menyediakan makanan ringan dan kopi. Ada pendopo dan kursi panjang juga, jadi kamu bisa bercengkrama di sana sambil ngopi dan menatap matahari terbenam di horizon. Duh, asyik banget! 

Lihat bayangan gunung di ujung sana? Itu Anak Krakatau, loh!
Sebetulnya, sore itu langit juga enggak begitu cerah. Jadi, kami enggak begitu bisa melihat semburat matahari terbenam yang jingga. Tapi, pemandangannya cukup indah juga, kok, apalagi ada Anak Krakatau yang kelihatan dari sana. Pasir putihnya juga bikin kami pengin berfoto dan bikin video terus.

Oh, ya. Informasi penting, nih. di Pulau Tunda, sinyal telepon susah banget! Bukan cuma itu, udah sinyal telepon susah, sinyal internet, yaaa, enggak ada. Tapi, mungkin lebih baik begitu kali, ya, jadi kami bisa liburan dengan fokus dan enggak asyik sama ponselnya sendiri. Di Pulau Tunda cuma ada sinyal Indosat, XL, dan Simpati. Sinyal Simpati bisa didapatkan di Jembatan Galau. Sinyal Indosat kayaknya bisa di mana aja, deh. Nah, kalo sinyal XL/ AXIS, bisa  didapatkan di pantai tempat mercusuar ini.

Sore itu benar-benar dipenuhi tawa. Ada yang mencari momen foto yang bagus, ada yang berfoto ala foto model, ada yang cuma berfoto ala kadarnya dan memilih untuk menikmati momen kayak saya. Yang jelas, kami enggak lupa untuk foto lompat. Yah, namanya lagi di pantai, kalo enggak ada foto lompat kayaknya enggak puas.

Biarpun lompatannya enggak keruan begitu, kami tetap senang, kok. :p - photo by Pache

Kami di pantai sampai matahari benar-benar tenggelam dan langit sudah mulai gelap. Karena enggak berenang, begitu pulang, kami langsung makan malam. Malamnya, rencananya kami akan membuat ikan bakar untuk dimakan beramai-ramai. Sayangnya, malam itu hujan. Sebagai gantinya, ikan-ikannya digoreng dan tetap kami makan bersama-sama di homestay tempat teman-teman dari Momotrip. Malam itu pun kami berbagi tawa dengan bernyanyi bersama dan melakukan game singkat. Seru banget sampai enggak kerasa sudah pukul 12 malam begitu kami tiba di homestay lagi.

You Might Also Like

0 comments