Bali Trip: Perjalanan Nekat Berbuah Pengalaman Manis [BAGIAN 1]

Ada yang tahu ini di mana? Saya enggak nyangka bahwa butuh waktu lama banget buat update catatan perjalanan ke Bali pada Maret lalu. Ya...

Ada yang tahu ini di mana?

Saya enggak nyangka bahwa butuh waktu lama banget buat update catatan perjalanan ke Bali pada Maret lalu. Yap, sekarang emang udah bulan Agustus, tapi apa harus nunggu sampai perayaan Indonesia merdeka dulu untuk bikin artikel ini? *kriuk! *garing!. Untunglah ingatan saya cukup baik kalau soal jalan-jalan, jadi sambil nulis artikel ini, saya kayak jalan-jalan lagi ke Bali!

Balik lagi ke pembukaan. Entah kenapa akhir-akhir ini (beberapa bulan terakhir sebetulnya) saya enggak punya mood nulis yang biasanya menghampiri di saat-saat genting. Mungkin saya capek nulis dan cuma pengin jalan-jalan aja, tapi mungkin juga saya cuma malas aja. Intinya, sekarang saya mulai mendapatkan kembali mood menulis yang saya butuhkan. Jadi, di sinilah saya, mau mulai menceritakan "pengalaman" saya selama di Bali yang mungkin sekarang hampir saya lupakan.

Bali. Sejak saya bertekad mau mengunjungi banyak tempat di Indonesia, nama Bali enggak pernah jadi prioritas. Serius. Bali udah jadi tempat yang ramai sama turis dan saya sebisa mungkin menghindari tempat-tempat yang ramai turis. Tapi, toh saya dapat kesempatan untuk ke Bali bermodalkan tiket murah Air Asia, jadi pergilah saya.

Sebetulnya, ini adalah perjalanan yang nekat karena ini pertama kalinya saya traveling solo. Di tulisan sebelumnya, saya udah menyampaikan kegelisahan dan kekhawatiran saya soal traveling solo pertama ini. Tapi, pada akhirnya saya enggak menyesali perjalanan ini, kok. Kenapa? Lanjut baca, ya!

Hari Pertama

Pantai Padang-padang

Tempat pertama yang dikunjungi saat ke Bali jelas harus pantai!

Sebelumnya, saya mau mengingatkan buat semua yang baca tulisan ini bahwa saya enggak bakal detail soal biaya di tulisan ini karena saya udah lupa. Seandainya saya update tulisan ini beberapa hari atau beberapa minggu setelah saya ke Bali, mungkin saya bakal detail soal harga. Tapi, sekarang, saya bahkan udah lupa tempat nyimpan semua catatan pengeluaran selama di Bali. Jadi, jangan kecewa, ya!

Ya, lanjut. Sebelumnya, saya udah ceritain juga bahwa saya ketemu sama anak Couchsurfing di Bali. Hari pertama, saya ketemu sama Rob, anak CS asal Jerman, yang kebetulan tanggal trip-nya enggak jauh beda sama saya. Beruntungnya saya, Rob menyewa mobil dari hotel di Kuta untuk trip hari pertama ini. Dia bahkan enggak ngajak share cost dan saya menghargai banget kebaikannya itu. Setelah berunding dan tanya-tanya sama Pak Sopir, akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke Pantai Padang-padang dulu sebelum ke tujuan utama kami, Pura Luhur Uluwatu.

Pantai Padang-padang atau Labuan Sait terletak di Desa Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan. Ini adalah salah satu pantai yang jadi favorit para peselancar karena ombaknya yang cukup besar. Pantai ini enggak kelihatan dari jalan raya soalnya menuju ke pantainya juga kami harus menuruni anak tangga yang berada di antara batu karang besar. Jalanannya menyerupai goa dan cuma cukup untuk satu orang dewasa. Jadi, kalau mau turun atau naik ya harus gantian karena jalanannya bakal sempit di tengah. Tapi, setelah melewati jalan sempit itu, kami langsung menghadapi pantai dengan pasir putih.

Pantai Padang-padang yang lagi pasang. Banyak batu karangnya!

Saat kami tiba di sana, air lautnya lagi pasang, jadi bibir pantainya sempit. Oh ya, Pantai Padang-padang ini dijadikan salah satu lokasi pengambilan gambar untuk filmnya Julia Roberts, Eat Pray Love, loh! Sepanjang pantai ini ada banyak banget batu karang besar dan di pinggirnya juga penuh tebing terjal gitu. Di dekat pantai, sih, air lautnya lumayan tenang, biarpun ada satu masa kami kaget banget karena tiba-tiba ombak besar menghantam. Para pengejar ombak, sih, harus agak ke tengah supaya dapat ombak yang besar.

Saat sampai sana, ada cukup banyak peselancar yang lagi mengejar ombak di tengah. Saya dan Rob yang emang enggak ada rencana berenang atau pun berselancar jadinya cuma jalan-jalan di sepanjang pantai. Dan karena lagi pasang, jadinya area berpasirnya terbatas karena pantainya terendam air laut. Tapi, Padang-padang jauh lebih baik dari Kuta dalam banyak hal. Biarpun saya bilang ramai, sebetulnya kalau diingat-ingat, mungkin jumlah pengunjungnya cuma 30 orang saat saya sampai di sana.

Sesembahan alias sesajen bakal banyak ditemui di Pantai Padang-padang. (monyet juga banyak!)

Sayang lautnya pasang. Batu karang ini jadi licin banget.. :(


Pura Luhur Uluwatu

Patung Hanoman di Uluwatu.

Kami enggak lama di Pantai Padang-padang. Setelah puas menikmati debur ombak, kami langsung menuju destinasi berikutnya, yaitu Pura Luhur Uluwatu. Bisa dibilang bahwa ini adalah salah satu tempat yang wajib banget dikunjungi kalau kalian pergi ke Bali. Tempat ini enggak pernah sepi pengunjung, sih, kayaknya. Soalnya, biarpun saya datang ke sana pada hari kerja, tetap aja tempat ini ramai banget. Satu hal menarik yang khas banget Uluwatu adalah monyet-monyetnya. Iya, kalian bakal ketemu banyak banget monyet yang siap mengambil sunglasses kalian. :p

Eits, tapi tunggu dulu. Bukan berarti tempat ini enggak asyik, ya. Monyet-monyetnya emang tricky banget, sih, dan tempatnya juga lumayan rame. Tapi, itu semua segera terlupa karena suasana yang magical dan  menakjubkan! Gimana enggak, kalian bisa menelusuri pinggir tebing yang bawahnya adalah lautan lepas dengan deburan ombak yang syahdu banget! Selain itu, namanya juga pura, ya tempat ini jadi punya aura magis tersendiri. Meski begitu, puranya enggak boleh dimasuki kalau lagi enggak ada yang sembahyang atau acara khusus.

Yang paling bikin Uluwatu enggak terlupakan memang suasana damai yang bisa dirasain sambil memandang lautan lepas. Sayangnya, di sini kalian enggak bisa bebas pakai drone, ya! Meski pemandangannya luar biasa banget pasti kalau dilihat dari ketinggian, kalian enggak bisa menikmatinya secara gratis. Kenapa? Karena kalian harus bayar sekitar Rp2 juta untuk pakai drone. Sayang banget, ya! Tapi, sebetulnya, enggak pakai drone pun, kalian tetap bisa nikmatin pemandangan nan permai ini cuma dengan membayar HTM Rp20.000 per orang.

Sudut lain di Pura Luhur Uluwatu.

Rob udah bersiap nerbangin drone sebelum akhirnya dikasih tahu bahwa kalau mau pakai drone harus bayar Rp2 juta!

Nah, puncaknya, kalian belum sepenuhnya mengeksplorasi Pura Luhur Uluwatu kalau belum menikmati sunset sambil nonton pertunjukan Tari Kecak. Memang, sih, setiap hari pasti yang nonton pertunjukan ini ramai banget, baik itu saat hari kerja maupun akhir perkan. Tapi, semua itu enggak seberapa dibandingkan pengalaman enggak ternilai yang bisa kalian dapatkan saat menonton pertunjukan itu.

Untuk menonton pertunjukan Tari Kecak, kalian harus membeli tiketnya dari siang supaya enggak kehabisan tiket. Saya dan Rob sampai di Pura Luhur Uluwatu sekitar jam 1 siang dan selesai berkeliling sekitar jam 3. Setelah itu, kami berencana makan dulu sebelum menonton pertunjukan Tari Kecak. Tapi, driver kami bilang bahwa kami harus membeli tiket saat itu juga karena bisa kehabisan tiket. Untunglah Pak Wayan (driver kami) sangat baik dan menawarkan untuk membelikan tiket kami. Harga tiket pertunjukan tersebut adalah Rp100 ribu per orang.

IDR100k for only almost an hour, but really worth like a day!

Setelah itu, kami makan di restoran dekat situ (enggak perlu disebutin namanya) yang harganya muahhaall banget! Yah, namanya juga di dekat tempat wisata, jadi wajar aja kalau nasi putih tok harganya Rp15 ribu :'(. Tapi, memang restorannya nyaman, sih, dan yang makan di situ memang foreigner semua. Hiks. Enggak apa juga, sih, namanya juga pengalaman. :p

Oh ya, di Uluwatu juga saya beli topi pantai, loh! Iya, soalnya saya enggak sempat beli sebelum berangkat. Lagipula, tadinya saya kira Bali enggak bakal panas banget; ternyata saya salah. Jadilah saya langsung membeli topi yang banyak dijual di dekat area parkir Pura Luhur Uluwatu. Saya beli yang warna putih, biar kulit saya kelihatan cerah dikit. DIKIT, LOH. :p

Beli topi dulu.. :p
Kelihatan cerah enggak? hahhaa..

Menonton Petunjukan Tari Kecak

Kami di restoran itu cukup lama, sampai hampir pukul 5 sore. Karena kami takut tidak kebagian tempat, kami pun segera berjalan kembali ke sana. Pak Wayan sudah membelikan tiket untuk kami dan langsung menyuruh kami ke tempat pertunjukan. Benar saja, sesampainya di sana, tempat yang berhadapan langsung dengan lokasi matahari terbenam sudah penuh. Untunglah saya dan Rob tak terlalu memusingkan perkara tempat duduk ini. Jadilah kami segera mencari tempat kosong di mana pun, asalkan di bagian atas. Kami dapat tempat di bagian atas, sebelah kiri dari pintu masuk.

Sepanjang pertunjukan berlangsung, saya sama sekali enggak bisa melepaskan pandangan dari para penari yang magis banget! Meski penontonnya ramai, uniknya mereka enggak berisik karena hampir semuanya menikmati momen magis saat para penari mulai datang, lalu duduk melingkar, dan meneriakkan "Cak cak cak!".

Penari mulai melingkar, pertunjukan dimulai!
Sinta dalam bahaya!

Rob merekam hampir keseluruhan pertunjukan untuk vlog-nya. Saya hanya mengambil beberapa gambar dengan ponsel, namun kenangan akan pertunjukan itu terekam penuh di kepala saya. Hari itu ditutup dengan senja yang berawan saat Hanoman menyelamatkan Sinta dari Rahwana.

Pertunjukan hampir selesai. Hanoman menyelamatkan Sinta dan mengalahakan Rahwana.


You Might Also Like

1 comments

  1. Semua hal hebat berawal dari nekat kak. Wkwk. Btw ngebuktiin kalau ke Bali nggak harus ngeluarin duit banyak.

    ReplyDelete